Nama : Devina Anggia Putri
Kelas : XII-A
Presensi : 10
Cerita Pendek Hikayat Bunga Kemuning
Di sebuah kerajaan Indrapura, hiduplah seorang raja bijaksana bersama sepuluh puteri yang cantik jelita. Kesepuluh puteri itu diberi nama berdasarkan warna, mulai dari Putri Biru, Putri Jingga, Putri Hijau, dan seterusnya. Namun, setelah istri raja meninggal, raja menjadi sibuk mengurus kerajaan sehingga para puteri tumbuh menjadi gadis-gadis yang manja dan seringkali bertengkar. Hanya Putri Kuning, si bungsu, yang memiliki sifat berbeda. Ia rajin, baik hati, dan selalu menghormati orang tua.
Suatu hari, raja harus pergi berlayar dalam sebuah misi penting. Sebelum berangkat, ia meminta setiap puterinya untuk menyampaikan permintaan. Kesembilan puteri meminta perhiasan mahal dan pakaian mewah. Namun, Putri Kuning hanya meminta agar ayahnya kembali dengan selamat.
Ketika raja pergi, kesembilan puteri semakin berbuat semena-mena. Mereka mengadakan pesta setiap hari dan mengabaikan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan. Sementara itu, Putri Kuning tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Ia merawat taman istana, membantu para pelayan, dan selalu berdoa untuk keselamatan ayahnya.
Tiba saatnya sang raja selesai berlayar dan kembali ke istana dengan berjalan melintasi samudra seorang diri. Melihat keadaan istana yang tidak beres akibat ulah kesembilan puterinya, raja merasa sedih. Namun, raja melihat Puteri Kuning tetap menjadi anak yang baik, maka raja memberikan hadiah berupa kalung batu hijau sebagai bentuk kasih sayang. Hal ini membuat kesembilan puteri lainnya iri dan kesal terhadap Puteri Kuning.
Kesembilan puteri lainnya berdiskusi dan memikirkan bagaimana cara menyingkirkan Puteri Kuning. Maka, mereka bersama-sama memukul Puteri Kuning sampai meninggal. Mereka takut apabila ayahnya mengetahui apa yang telah dilakukan kepada Puteri kesayangannya. Akhirnya, Puteri Kuning dimakamkan dengan kalung batu hijaunya di taman istana oleh kesembilan puteri lainnya.
Setiap hari, raja mencari keberadaan Puteri Kuning yang hilang. Suatu saat, raja ingin menanam bunga di taman istana dan melihat kalung batu hijau milik Puteri Kuning. Raja terheran dan menanyakan hal ini kepada seluruh puterinya. Kesembilan puteri mau mengakui apa yang telah dilakukan. Raja merasa sangat kehilangan Puteri Kuning dan merasa menyesal menjadi ayah yang tidak berhasil mendidik anak-anaknya.
Raja berpikir tiap hari bagaimana caranya agar puteri-puterinya dapat memiliki sifat yang baik seperti Putri Kuning. Maka, raja mengirim seluruh puterinya untuk bersekolah agar dapat mengasah budi pekerti mereka. Raja berharap supaya mereka tidak melakukan perbuatan jahat kembali dan dapat melanjutkan mengurus istana.
Setelah ditinggal seluruh puterinya, raja hidup seorang diri di istana. Tiap hari, raja pergi ke taman istana. Tidak disangka, tumbuh sebuah tanaman diatas makam Puteri Kuning. Raja yang melihat bunga tersebut berwarna kekuningan dan sangat wangi memberi nama sebagai Bunga Kemuning. Pada akhirnya, Bunga Kemuning dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mengharumkan rambut.
Hikayat Bunga Kemuning
Sebermula di negeri Indrapura, bertakhtalah seorang raja yang gagah perkasa. Setelah permaisuri baginda mangkat, baginda pun hidup sebatang kara bersama sepuluh orang puti yang jelita parasnya. Kesepuluh puti jelita itu diberi gelar menurut warna, mulai dari Puti Jambon yang sulung, Puti Biru, Puti Hijau, Puti Merah hingga Puti Kuning yang bungsu.
Kesembilan puti sulung, hati mereka penuh dengan angkara murka. Mereka senantiasa meminta permata dan kain sutera dari ayahanda mereka. Berbeda dengan saudara-saudarinya, Puti Kuning memiliki budi pekerti yang luhur. Ia senantiasa membantu ayahanda dalam mengurus kerajaan dan bermunajat kepada Yang Maha Kuasa agar ayahanda selamat.
Pada suatu hari, baginda raja berniat belayar ke negeri seberang. Sebelum berangkat, baginda bertanya kepada para putinya, “Wahai anakanda sekalian, adakah permintaan yang ingin ayahanda tunaikan?” Kesembilan puti sulung, bagai burung merak menjerit-jerit meminta permata dan emas, menyuarakan hasrat hati yang tamak. Namun, Puti Kuning, bagai rembulan di malam sepi, hanya memohon agar ayahanda kembali dengan selamat sejahtera.
Ketika baginda raja pergi, kesembilan puti sulung membuat keonaran yang maha dahsyat di istana. Mereka berpesta pora dan memboroskan harta benda kerajaan tanpa mengenal batas. Puti Kuning yang melihat perbuatan saudara-saudarinya itu merasa pilu. Ia tetap menjaga istana dan rakyat dengan penuh kasih sayang.
Setelah sekian lamanya baginda raja menjelajah samudra, tibalah saatnya baginda kembali ke istana dengan melangkah di atas samudra seorang diri. Betapa terkejut dan dukacita hati baginda tatkala menyaksikan keadaan istana yang porak-peranda. Kesembilan puti dihukum berat atas perbuatannya yang keji. Namun, Puti Kuning, sang puti bungsu yang elok parasnya, menerima pujian dan hadiah kalung batu hijau dari baginda raja.
Maka tatkala melihat akan hal demikian itu, sembilan orang puteri yang lain, hati sanubari mereka penuh dengan iri hati dan dengki akan puteri bungsu, yang bernama Puti Kuning. Maka dengan kejamnya, mereka memukul puteri tersebut sehingga nyawanya melayang. Setelah itu, dengan liciknya mereka menguburkan jasad puteri itu di taman kerajaan, beserta kalung batu hijau kesayangannya.
Setiap hari, baginda raja rindu akan puteri bungsu itu. Baginda mencari ke seluruh penjuru kerajaan. Namun, sia-sia sahaja usaha baginda. Suatu ketika, tatkala baginda hendak menanam bunga di taman, tiba-tiba ternampaklah kalung batu hijau yang menjadi tanda kasih baginda kepada puteri bungsu. Maka baginda bertanya kepada sembilan orang puteri yang lain. Akhirnya, mereka semua mengakui perbuatan keji mereka. Dengan hati yang hancur, baginda menangis tersedu-sedu. Setelah itu, baginda mengutus kesembilan orang puteri itu pergi belajar, agar mereka insaf akan perbuatan keji mereka.
Suatu hari, di taman nan elok tumbuhlah sekuntum bunga yang harum semerbak. Bunga itu berwarna kuning menyala bagai emas, amatlah elok dipandang mata. Seketika itu juga, baginda raja pun terpikat hatinya. Lalu, titahlah baginda agar bunga itu dinamakan Bunga Kemuning, semenda dengan nama puti kesayangan baginda yang jelita parasnya. Bunga Kemuning nan harum dimanfaatkan warga untuk membuat wangi rambut mereka.
- Identifikasi karakteristik Hikayat Bunga Kemuning yang terdiri atas :
A. Unsur kemustahilan
1. Tumbuh sebuah tanaman diatas makam Puteri Kuning dan berwarna kuning serta sangat wangi hingga bisa dimanfaatkan untuk warga sekitar.
B. Unsur kesaktian
1. Raja memiliki kekuatan untuk menyeberangi laut bahkan berjalan diatas samudra tanpa menggunakan kapal.
C. Arkais
1. Mangkat = Meninggal dunia
2. Puti = Puteri
3. Angkara murka = Keangkuhan
4. Ayahanda = Ayah
5. Baginda = Raja
6. Bermunajat = Berdoa
7. Anakanda = Anak
8. Maha dahsyat = Luar biasa
9. Tatkala = Ketika
10. Semenda = Sesuai
11. Sahaja = Saja
12. Titah = Perintah
D. Majas
1. Majas metafora
Bukti kalimat : Setelah permaisuri baginda mangkat, baginda pun hidup sebatang kara bersama sepuluh orang puti yang jelita parasnya.
Kata sebatang kara memiliki arti seorang diri.
2. Majas hiperbola
Bukti kalimat : Kesembilan puti sulung, bagai burung merak menjerit-jerit meminta permata dan emas, menyuarakan hasrat hati yang tamak.
Termasuk dalam majas metafora karena melebih-lebihkan tindakan burung merak.
3. Majas Simile
- Bukti kalimat : Namun, Puti Kuning, bagai rembulan di malam sepi, hanya memohon agar ayahanda kembali dengan selamat sejahtera.
- Bukti kalimat : Bunga itu berwarna kuning menyala bagai emas, amatlah elok dipandang mata.
E. Istana sentris
1. Sebermula di negeri Indrapura, bertakhtalah seorang raja yang gagah perkasa.
2. Kesepuluh puti jelita itu diberi gelar menurut warna, mulai dari Puti Jambon yang sulung, Puti Biru, Puti Hijau, Puti Merah hingga Puti Kuning yang bungsu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar